Prabowo: Kurawa Sandera Demokrasi Indonesia


Capres 2014, Prabowo Subianto mengatakan Indonesia sekarang berada di persimpangan jalan. Cita-cita demokrasi disandra kelompok Kurawa, perlambang angkara murka. Mereka diajarkan keinginan masing-masing dengan mengatakan persetan dengan orang.



Namun demikian, Prabowo masih percaya bahwa demokrasi adalah sistem yang terbaik asal prosesnya dijalankan dengan benar dan baik.

"Saya percaya dan komit pada demokrasi. Kita harus melihat ada keberhasilan pada bangsa kita. Kita sudah merintis keadaan demokrasi," katanya dalam diskusi "Masa Depan Indonesia: Tantangan 20 tahun ke Depan dan Analisis Politik 2012,  Suara Tuhan: Suara Rakyat Versus Suara Elite" di Garden Terrace Hotel Four Seasons, Jakarta, tadi malam.

Hal itulah aku mantan Danjen Kopassus ini, dirinya terpanggil untuk terjun ke dunia politik yang dalam arti sederhana berarti upaya untuk memperbaki rakyat. "Sebagai anak bangsa saya ingin memberbaiki bangsa, makanya saya masuk politik. Saya pernah belajar politik," katanya lagi.

Namun Prabowo mengaku banyak belajar dari dunia politik yang dilakoninya selama ini. Teori dan konsepsi demokrasi yang sudah bagus ditulis di buku-buku ternyata tidak sesuai dengan praktek dan realitanya di lapangan.

"Di dalam teori di kampus yang ada adalah benar salah, sedangkan di lapangan yang ada adalah menang kalah. Tidak ada dosen dan kampus yang mengajarkan serangan fajar. Namun kalau tidak ngerti serangan fajar, dia tidak ngerti politik Indonesia," imbuh pendiri Partai Gerindra itu disambut tepuk tangan hadirin

Serangan Fajar (Politik Uang)
Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra Prabowo Subianto mengungkapkan alasannya terjun ke dunia politik. Purnawirawan jenderal bintang tiga ini mengaku prihatin melihat banyak penyimpangan yang terjadi di negeri ini. Prabowo, dalam pembelajaran politiknya, mengaku mempertanyakan banyak hal, termasuk soal "serangan fajar".

"Saya melihat ada keanehan-keanehan dalam arah perjalanan bangsa dan sebagai anak bangsa. Saya ingin meluruskan arah itu. Makanya saya belajar politik," ujar Prabowo, Selasa (18/12/2012), saat memberikan kuliah umum dalam diskusi Soegeng Sarijadi Syndicate di Hotel Four Seasons, Jakarta.

Prabowo menilai politik adalah usaha untuk memperbaiki kehidupan rakyat. Implementasi dari politik adalah pemilu. Atas hal itu, Prabowo akhirnya mulai memberanikan diri dengan ikut Pemilu. Pada tahun 2009 silam, Prabowo masuk dalam bursa cawapres bersanding dengan Megawati Soekarnoputri, namun akhirnya gagal dalam meraup suara. Prabowo mengatakan, dalam perjalanan memahami politik, ia sempat berdebat di depan para guru besar Universitas Indonesia.

Ketika itu, ia mempertanyakan antara ketidaksesuaian teori dengan realita politik yang ada di Indonesia, terutama dalam fenomena "serangan fajar" yang acap kali dilakukan dalam pemilihan. Menurutnya, di dalam teori politik yang diajarkan hanya kebenaran. Padahal, dalam realita yang ada, politik hanya ditafsirkan yang menang dan kalah.

"Saya tanya ke mereka, kenapa serangan fajar tidak diajarkan di fakultas kita? Kalau tidak belajar serangan fajar, tidak akan mengerti politik Indonesia," ucap mantan Panglima Komando Strategi Angkatan Darat itu.
Pengalaman Prabowo akan serangan fajar terjadi saat dirinya ikut dalam Pemilu lalu. Ia mengatakan saat itu dirinya tengah memaparkan visi dan misinya menjadi cawapres. Namun, rakyat tidak tertarik dan hanya bertanya apa yang bisa diberikan kepada rakyat. "Jadi visi dan misi ini rupanya tidak terlalu penting. Saya belajar politik di sini," kata Prabowo.

Pengalamannya dengan "serangan fajar" juga terjadi dalam Musyawarah Nasional (Munas) partai. "Teknik untuk memenangkan Munas lagi-lagi serangan fajar, jam 3 pagi koper-koper masuk hotel. Ini realitasnya," ucap Prabowo.

Sehingga, lanjutnya, idealisme berdemokrasi, cita-cita Pancasila menjadi tidak berkorelasi dengan realitas yang ada. Meski demikian, Prabowo menilai bahwa saat ini Indonesia juga tengah belajar berdemokrasi. Sehingga, penyimpangan-penyimpangan itu juga termasuk dalam konsekuensi.

Direktur Eksekutif Soegeng Sarjadi Syndicate (SSS) Ari Nurcahyo menilai kondisi politik Indonesia selama tahun 2012 ini merupakan tahun "sungsang", di mana semakin banyak kebisingan oleh elit politik. Mereka dinilai tidak memberikan contoh keteladanan. Ari pun melihat semua elit saling tersandera oleh permasalahan masing-masing.

"Udara politik negeri ini vakum politik untuk bernegara, tapi penuh sesak dan pengap akan politik untuk berkuasa. Panggung politik di lapis elite adalah politik berkuasa tapi kita absen dari politik bernegara," ujar Ari, Selasa (18/12/2012), dalam diskusi SSS di Four Season Hotel, Jakarta.

Ari menyebutnya kondisi seperti itu sebagai "kesungsangan politik". Hal itulah yang terjadi selama tahun 2012. Kesungsangan politik terjadi lantaran sepanjang tahun ini banyak pemimpin negeri ini di tingkat elit yang tidak mencontohkan kebaikan. Di tataran eksekutif misalnya, Ari melihat sosok Presiden dikesankan lemah sehingga banyak kebijakan publik yang tidak membawa perubahan signifikan.

Selain itu, Presiden juga direpotkan menjaga stabilitas sekretaris gabungan, partai koalisi pemerintah yang ujung-ujungnya pecah. Padahal, dengan sistem presidensil yang ada, seharusnya kuasa Presiden sangat besar. Di tingkat legislatif, Ari melihat parlemen juga tidak luput dari kasus korupsi hingga pelanggaran etika pornografi.

"Citra anggota DPR itu adalah politisi yang mencari nafkah. Banyak kesungsangan terjadi di sini. Jadi terbolak-balik menjadi tidak jelas bentuknya sekarang," kata Ari lagi.

Hal ini diperparah dengan lembaga penegak hukum yang dinilai tidak menunjukkan kewibawaannya. "Yang tampil ke publik justru dominan perkara hukum entah itu korupsi atau mafia hukum. Persoalan ini tidak merepresentasikan dia sebagai pejabat publik yang baik," imbuh Ari.

Dengan kondisi semua pilar negara ini yang tak menunjukkan kebaikan, Ari melihat ketiganya pun akhirnya saling menyandera lantaran mereka saling berperkara. Kondisi masyarakat kini juga tidak lagi kondusif dengan banyaknya daerah rawan konflik di Indonesia. Aksi unjuk rasa yang dilakukan masyarakat pun tidak hanya digunakan untuk aspirasi tetapi juga alat anarki.

"Masyarakat pun sudah kehilangan arahnya. Di sisi lain, bagaimana wibawa hukum, penegak hukum malah tidak berwibawa. Ini beberapa contoh kesungsangan yang terjadi selama 2012," ucap Ari.

Sumber: RIMANEWS
Share this article :
 
Support : Copyright © 2011. Prabowo Center - All Rights Reserved
Proudly powered by Prabowo Center